Archive | Maret 2016

Bung Hatta di Mata Tiga Putrinya

Bung-Hatta-di-Mata-Tiga-PutrinyaBung Hatta bagaikan lentera keluarga bagi tiga putrinya. Penuntun, pembimbing, pelindung, sekaligus pendidik karakter yang tumbuh hingga saat ini.

Bung Hatta yang ditulis sebagaimana adanya. Ada cerita lucu, gembira, bahkan cerita sedih.

“Beliau senang kalau saya berpakaian rapi dengan warna-warna yang menurut istilah sekarang, kinclong, sesuai pilihan Ibu. Namun, ayah tidak pernah memuji saya dengan kata-kata berbunga…. Namun, kalau saya menunjukkan gambar yang saya buat dengan pensil warna, Ayah segera memuji saya. Ketika saya remaja, saya baru sadar bahwa pujian itu dimaksudkan Ayah agar saya terus mengembangkan kemampuan saya untuk menjadi lebih baik lagi.” (Meutia Farida Hatta)

“Pada tahun 1971, Ayah, Ibu disertai Halida pergi beroabt ke Negeri Belanda. Sekembali dari sana, Ayah memerintahkan Pak Wangsa Widjaja mengembalikan kelebihan dana sisa perjalanan yang diperolehnya itu ke negara melalui Sekretariat Negara… Tidak terlintas di pikiran Ayag sedikitpun untuk menggunakan sisa uang untuk dirinya sendiri atau keluarganya.” (Gemala Rabi’ah Hatta)

Baca lebih lanjut

Iklan

RAFFLES dan Invasi ke Jawa

47717_138x212“Mungkin lebih baik kalau kita dijajah Inggris, bukan Belanda,” kata beberapa orang Indonesia. Namun Indonesia pernah dijajah Inggris: antara tahun 1811 dan 1816, ketika negeri Belanda diduduki Napoleon, Inggris melakukan invasi dan merebut Jawa dari Belanda. Selama lima tahun, Jawa diperintah oleh seorang tokoh yang dampak masa kekuasaannya terus terasa hingga ratusan tahun kemudian: Thomas Stamford Raffles.

Bagi sementara kalangan, nama Thomas Stamford Raffles harum sebagai pendiri Singapura dan tokoh vivioner liberal di tengah zaman kolonialisme Eropa. Namun ceritanya bukan cuma itu. Tim Hannigan mengungkap sisi lain Raffles yang tampak ketika dia berkuasa di Jawa: seseorang yang bermimpi menjadi penguasa tertinggi di Jawa, meluluhlantakkan Keraton Yogyakarta, mempermalukan para raja dan pangeran pribumi, memicu pembantaian di Palembang, dan mencoba menerapkan sistem sewa tanah yang mengubah ekonomi di Jawa.

 

 

 

 

Sainspirasi: Inspirasi Kehidupan Berdasarkan Fenomena Sains

47714_141x212“……Sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan alam, manusia wajib menjaga keseimbangannya. Sebab kehidupan di dunia ini berlangsung dengan prinsip keseimbangan alam. Apabila manusia melakukan kebaikan berarti melakukan sesuatu yang selaras dengan keseimbangan alam sehingga kebahagiaan yang  dihasilkannya akan bertahan. Namun sebaliknya, bila manusia melakukan keburukan berarti melakukan sesuatu yang tidak selaras dengan keseimbangan alam, sehingga kebahagiaan yang dihasilkannya tak akan bertahan, bahkan lambat laun akan berubah menjadi penderitaan.

Buku “SAINSPIRASI: Inspirasi Kehidupan Berdasarkan Fenomena Sains” ini menjadi menarik sekaligus penting untuk dibaca. Ilmu pengetahuan ada di sekitar kita, perilaku sederhana alam dan hewan bisa melahirkan teknologi yang tak terbayangkan sebelumnya. Tinggal bagaimana kita mencermatinya dengan seksama, lalu menjadikannya energi positif sebagai modal memelihara dan mengembangkan peradaban berbasis etika, ilmu pengetahuan dan teknologi.